Dengan adanya
peninggalan jaman dulu masa agama Hindu dan Budha juga benda benda peninggalan
arkeologi berupa lingga dan arca nandi
yang diduga bekas reruntuhan bangunan candi yang berasal dari abad ke 7 – 8
Masehi. Ini memperkuat
desa ini sebagai desa yang paling tua di Kuningan.
Peninggalan batuan tersebut berada dilokasi Lingga dan Sanghiang, dan disekitar
lokasi tersebut sering ditemukan koin-koin yang diperkirakan sebagai alat tukar
pada jaman itu dengan tulisan jawa kuno.
Ini merupakan
bukti sejarah bahwa ditempat ini pernah terjadi pusat pemerintahan pada waktu
itu diperkirakan (mulai tahun 723 M) yang
dipimpin oleh putra Danghiang Guru
Sempakwaja seorang Resiguru di Galunggung yaitu Resiguru Demunawan atau Seuwukarma
alias Rahyangtangkuku atau Sang Kuku, beliau menetap disini dan
terkenal pada jaman itu karena kesaktiannya dengan ajian Dangiang Kuning, yang
mengajarkan bahwa tidak menyakiti mahluk hidup, tidak memakan hewan, dan
bersahabat dengan alam.
Pada tahun
1157-1175 dipimpin oleh Rakean
Dharmasiksa sebagai menantu Demunawan yang berasal dari raja Sunda yang ada
di Kawali. Pada tahun 1176 Rakean Dharmasiksa pindah lagi ke Kawali
mennggantikan ayahnya yang wafat yaitu Prabu
Dharmakusumah, dan kepemimpinan Rakean
Dharmasiksa dilanjutkan oleh putranya yaitu Ragasuci atau Ragaputra
atau Rahyangtang Saunggalah dari
tahun 1176 - 1298 dan memperistri Dara
Puspa putri dari Raja melayu.
Tahun 1298 Ragasuci diangkat
menjadi Raja Sunda menggantikan ayahnya di Kawali dengan gelar Prabu Rajasuci
(1298-1304), dan kepemimpinan Saunggalah diteruskan oleh putra Ragasuci yaitu Citraganda.
Memasuki jaman
penyebaran agama islam diperkirakan pada tahun 1372 dibawah kekuasaan penguasa
bukit amparan jati (sekarang Cirebon) Kanjeng
Sunan Gunung Jati menugaskan Syekh
Maulana Akbar atau Syekh Bayanullah
adik dari Syekh Datuk Kahfi untuk
melakukan syi’ar agama islam di Kuningan dengan membuka pesantren yang pertama
di Kajene (sekarang Desa Sidapurna), dan sampailah di bekas pemerintahan
Saunggalah (sekarang Desa Sagarahiang, Desa Karangsari, Desa Sukadana). Penyebaran agama islam didesa
Sagarahiang dibawah komando Syekh Maulana
Akbar, yaitu oleh :
1. Syekh
Abdul Alim
2. Syekh
Abdul Salam
3. Syekh
Mangun Dana
Semenjak agama
Islam masuk ke daerah ini maka sedikit demi sedikit ajaran Hindu pun menghilang
dan digantikan dengan agama Islam, pada masa itulah sagala ilang (semua
menghilang), yaitu hilangnya ajaran Hindu yang dianut oleh masyarakat, beralih
kepada ajaran agama Islam.
Pemerintahan
selanjutnya oleh keturunan Ariel
Saunggalah (Sanghiang Sukma
Dipucuk/Sang Kewu Kareueus. Mulai pada jaman pemerintahan ini sebagai
rereksak lembur diterapkan dan disebut dengan babarit.
Sampai dengan
saat ini ajaran budaya babarit sebagai penghormatan kepada para leluhur/orang
terdahulu masih tetap diterapkan ini
semata-mata hanya sebagai budaya dan adat khas Desa Sagarahiang sebagai
pangeling-eling buat kita semua juga sebagai bukti rasa syukur kepada Alloh
SWT. atas segala karunia yang sudah kita dapatkan.
Pemimpin Desa Sagarahiang dari
masa ke masa :
- Sang Kewu Kareueus/ Sanghiang Sukma Dipucuk --
- Buyut Bewu --
- H, Amin --
- Salija --
- Warga Santana 16 tahun
- Aminudin 7 tahun
- B. Abdulmanaf 9 tahun
- H, Aksum 8 tahun
- M. Husein Firdaus 8 tahun
- A. Apandi 8 tahun
- H, Saprudin 9 tahun
- Nana Awalilhana 6 tahun
- Drs, S. Arifin (PJS) 1 tahun
- Iman Budi Kortana sekarang
Penulis menyadari
masih banyak kekurangan dalam punyusunan sejarah desa ini,
Referensi :
1. Naskah
Carita Parahyangan
2. Naskah-naskah
Wangsakerta (gabungan) :
a. Pustaka
Rajya-rajya i Bhumi Nusantara
b. Pustaka
Pararatwan
c. Pustaka
Nagarakretabhumi



Tidak ada komentar:
Posting Komentar